Kenali Proses Hubungan Seks yang Terjadi di Tubuh KitaLifestyle Seks 

Kenali Proses Hubungan Seks yang Terjadi di Tubuh Kita

Kenali Proses Hubungan Seks yang Terjadi di Tubuh Kita

PASTI365 – Kenali Proses Hubungan Seks yang Terjadi di Tubuh Kita , Di sekolah, tepatnya saat di SMP, kita mulai diajarkan tentang seksualitas. Perlahan-lahan kita mengenal bagian-bagian tubuh yang nantinya berhubungan dengan kegiatan seks ketika dewasa, seperti penis, vagina dan lain sebagainya. Namun itu tak menjawab bagaimana proses seks itu sendiri karena sekolah tak pernah mengajarkan. Oleh karena itu, mari kita belajar bersama-sama!

Dalam kegiatan seks, menurut penelitian terdapat empat fase yang akan mendatangi kita, yaitu fase kegembiraan, dataran, puncak dan resolusi. Fase ini merupakan satu kesatuan dari sebuah siklus sehingga tidak dapat diacak.

Dalam berbagai tahapan fase tersebut, tubuh kita mengalami perubahan yang tak tampak, yang membantu kita melakukan berhubungan seks dan hanya terjadi kala itu saja. Nah untuk penjelasan lebih mendalamnya, silakan baca artikel ini!

1. Fase kegembiraan

Fase-kegembiraan
Fase-kegembiraan

Pada fase ini, otak menstimulasi aliran darah yang mempengaruhi alat kelamin, detak jantung serta cara bernapas, mempersiapkan tubuhmu untuk melakukan hubungan intim. Hal ini juga membuat tubuh mengalami sex flush, kondisi di mana darah terpompa ke seluruh tubuh hingga memerahkan wajah dan tubuh bagian lainnya. Stimulasi ini bisa datang melalui fisik maupun secara psikologi.

Adapun hal yang berubah di dalam tubuh manusia ketika memasuki fase ini. Untuk wanita, vagina mulai banyak mengeluarkan pelumas serta melebar untuk memudahkan penis pria masuk. Ada pula membesarnya klitoris dan payudara karena vasocongestion. Sedangkan untuk pria, penis mulai berereksi, skrotum mengencang dan testikel terangkat.

2. Fase dataran

 Fase dataran
Fase dataran

Fase ini merupakan fase tengah dari siklus seks dan merupakan fase terlama karena tubuhmu berusaha bertahan untuk melakukan kegiatan seksual. Yah, ini adalah fase di mana kita melakukan hubungan seks. Pada fase ini, otot-otot mulai berkontraksi diikuti dengan proses vasocongestion. Inti dari fase dataran adalah untuk tetap mempertahankan kondisi badan kita dalam keadaan seksual sampai tercapainya orgasme.

Sama seperti fase kegembiraan, ada perubahan yang terjadi di dalam tubuh. Untuk wanita, dinding vagina mulai berkontraksi, klitori tertarik ke dalam, rahim mengembang dan labia luar menggelap. Perubahan ini disebut sebagai pembentukan platform orgasme.

Untuk para pria, penis dan testikel mereka mencapai ukuran maksimal sehingga membesar dan naik sedapat mungkin tubuh mampu melakukannya. Cairan pre ejakulasi juga mulai terdapat di penis untuk membantu keluarnya sperma. Secara perubahan psikologi, detak jantung, tekanan darah dan pernapasan terus meningkat.

3. Fase klimaks

Fase klimaks
Fase klimaks

Disebut pula fase orgasme, fase ini melepaskan daya ledak yang terjadi akibat terkumpulnya ketegangan di neuromuskular. Sangat menyenangkan. Hal ini terjadi secara mendadak dan tanpa sadar ketika stimulasi tubuh mencapai puncaknya. Fase ini juga menandakan akhir dari kegiatan seksual.

Untuk wanita, platform orgasme berkontraksi kurang lebih setiap delapan detik selama lima hingga 12 kali. Kontraksi itu terjadi di sfingter dan bagian otot-otot yang lain, seperti otot-otot di area rahim, vagina dan anus.

Bagi pria, kontraktsi terjadi di urethra dan otot-otot panggul untuk membuat penis mampu mengejakulasi dan mengeluarkan sperma. Setidaknya butuh waktu tiga hingga sepuluh detik untuk mencapai titik puncak ini.

4. Fase resolusi

Fase resolusi
Fase resolusi

Setelah tercapainya orgasme, maka fase selanjutnya dan sekaligus menjadi fase terakhir dari siklus seks adalah fase resolusi. Fase ini mengembalikan tubuh kita ke awal mula fase kegembiraan. Kurang lebih membutuhkan waktu 15 hingga 30 menit agar kondisi tubuh kembali ke fase pertama.

Di fase ini terdapat istilah periode refraktori atau, jika dalam olahraga disebut fase pendinginan. Bagi pria, penis sangatlah susah untuk mendapatkan ereksi dan orgasme lagi. Tidak diketahui berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk kembali berereksi, bisa hitungan menit ataupun jam, namun jumlah tersebut akan beriring seiring dengan bertambahnya usia.

Berbeda untuk wanita. Mereka tidak memiliki periode refraktori. Itu artinya wanita bisa mengalami beberapa kali orgasme yang berkelanjutan.

5. Otaklah yang memegang kunci kegiatan seksual kita

Otaklah yang memegang kunci kegiatan seksual kita
Otaklah yang memegang kunci kegiatan seksual kita

Kita dapat berpikir bahwa penis, vagina dan organ-organ seksual lainnya lah yang membuat kegiatan mengalami orgasme, namun sebenarnya bukan itu melainkan otak yang memegang kunci kenikmatan seksual kita. Dari hasil penelitian para ilmuwan menggunakan scan MRI pada kepala, ilmuwan menemukan adanya aktifitas yang sangat kuat di otak ketika berhubungan seks dan mencapai orgasme.

Hormon dopamine lah yang menyebabkan hal itu. Dopamine di otak juga dibantu oleh oksitosin, hormon yang menjadi mediasi rasa cinta dari pasangan. Tidak salah jika ada yang berpendapat bahwa kenikmatan seks yang sesungguhnya datang dari mereka yang benar-benar saling mencintai.

Scan di kepala juga membuktikan bahwa aktifitas otak ketika orgasme tidaklah berbeda jauh di antara pria dan wanita. Ketika mencapai fase ketiga, otak kita memadamkan kemampuan untuk mengontrol diri, berlogika, dan evaluasi diri. Masuk akal jika sering kali kita tidak mampu mengontrol diri ketika orgasme. Bahkan rasa takut dan kecemasan pun tertutup akan hal ini.

Untuk wanita, emosi yang dimilikinya akan berkurang ketika memasuki fase orgasme, membuat mereka lebih memiliki sifat pria dan mengoneksikan rasa sakit dan kenikmatan sebagai satu kesatuan. Sedangkan untuk pria sendiri, keagresifitasannya akan berkurang.

Sekarang kalian paham kan mengapa ada kasus-kasus kehamilan yang tak direncanakan? Titik orgasme ketika seks membuat kita gak bisa mengontrol diri, lalu bagaimana kita mau mengontrol kehamilan? Kontrol diri aja susahnya bukan main. Namun tetap kamu lah tuan dari pikiran dan tindakanmu sendiri ya. Jadi, berlatihlah untuk memaksa diri agar bisa terkontrol!

Related posts

Leave a Comment